Tari Beksan Srikandi Suradewati Yogyakarta Dengan Keanggunan yang Selalu Lestari

Seni tari Beksan Srikandi Suradewati merupakan sebuah seni tari klasik yang asli berasal dari Keraton Kasultanan Yogyakarta. Tarian ini selalu dibawakan secara berpasangan dengan alur cerita yang diambil dari kisah Mahabharata, terutama yang berhubungan dengan peperangan yang terjadi antara tokoh Srikandi dan tokoh Suradewati.

Alur cerita

Dalam tarian tersebut, dikisahkan Prabu Dasalengkara memerintahkan pada Suradewati untuk melamar Siti Sendari yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Srikandi. Namun lamaran ini ditolah oleh Siti Sendari karena sebelumnya dia telah dijodohkan dengan pria lain yaitu Abimanyu, putra dari Raden Arjuna.

Meski sudah ditolak, Suradewati tetap berusaha dengan cara memaksa. Dari sinilah kemudian terjadi pertempuran antara Suradewati melawan Srikadi. Dalam peperangan ini Srikandi bisa mengalahkan Suradewati.

Gerakan tarian

Semua gerakan dalam seni tari Beksan Srikandi Suradewati, semuanya mengacu kepada gaya gerakan tari tradisional khas Yogyakarta. Tarian ini terbagi dalam tiga bagian atau tiga babak. Dalam babak pertama, berupa gelaran sembahan. Setelah itu dilanjutkan dengan babak kedua yang dinamakan ulap-ulap, lalu disusul tancep beserta dialog.

Berikutnya adalah inti tarian atau beksan yang disebut sebagai enjerah. Selanjutnya tarian ini diakhiri dengan yang namanya mundur gendhing. Pada saat itu penari akan berjalan mundur secara perlahan dan meninggalkan panggung pertunjukan.

Pada setiap babak tarian, semua gerakannya juga terbagi jadi dua. Masing-masing gerakan ini selalu merujuk pada tokoh penarinya. Untuk penari yang berperan sebagai Suradewati, setiap gerakannya dinamakan Pucang Kanginan. Sedangkan pada penari yang memerankan Srikandi disebut gerakan Srikandi Gordo.

Busana dan musik pengiring

Sedangkan busana yang dikenakan dalam pertunjukan seni tradisional ini berbentuk pakaian wayang orang. Untuk tokoh Srikandi, di bagian kepala dihias dengan mahkota bernama tekes serta sumping januran. Kain batik pada jaritnya dipilih dari motif parang gendreh, sedangkan bajunya memakai rompi berwarna hitam.

Kemudian untuk tokoh Derawati, juga memakai hiasan mahkota dengan nama togok keling serta dilengkapi dengan sumping mankoro. Kain jaritnya memakai motif parang gordo, lalu busana rompinya berwarna merah. Selain itu kedua penari melengkapi dirinya dengan senjata keris yang disematkan di bagian pinggang.

Sama seperti seni tradisional khas Keraton Kasultanan Yogyakarta lainnya, pertunjukan seni tari Beksan Srikandi Suradewati juga selalu diiringi dengan instrumen musik gamelan. Tetapi gendhing yang dipakai adalah gending ladrang sri katon. Kemudian di babak enjeran, dipakai gending ketawang madu mukti dan dalam adegan peperangan menggunakan gending playon.

Sedangkan di babak paling akhir, gendingnya berupa gending ayak-ayak. Dilihat dari aneka perlengkapannya yang begitu banyak, dapat dipastikan bahwa pertunjukan seni tari yang satu ini sangat menarik untuk disaksikan.